Proses suksesi vegetasi gambut di taman nasional sebangau, kalimantan tengah bidang kegiatan



Yüklə 217 Kb.
tarix13.08.2017
ölçüsü217 Kb.


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PROSES SUKSESI VEGETASI GAMBUT DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH


BIDANG KEGIATAN :

PKM-AI


Diusulkan Oleh:


  1. Brayudanto Hardiyadi (E34080060/2008)

  2. Rizka N.S. Rahayu (E34080016/2008)

  3. Ikhwan Agustian (E34090118/2009)



INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

H

ALAMAN PENGESAHAN



PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : Proses Suksesi Vegetasi Gambut di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah

2. Bidang Kegiatan : (√)PKM-AI ( ) PKM-GT

3. Bidang Ilmu : Pertanian

4

. Ketua Pelaksana Kegiatan



5. Anggota Pelaksana kegiatan : dua orang

6

. Dosen Pendamping


Bogor, 3 Maret 2011

Menyetujui

Ketua Departemen KSHE Ketua Pelaksana Kegiatan

( Prof. Dr. Ir.Sambas Basuni. M.S. ) (Brayudanto Hardiyadi)

NIP. 19630708 199512 1 001 NIM. E34080060

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Dosen Pendamping,

Kemahasiswaan,

( Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, M.S. ) (Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F.Trop)

N
i


IP. 19581228 198503 1 003 NIP. 196209181989031002

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa artikel ilmiah yang berjudul Proses Suksesi Vegetasi Gambut di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada institusi manapun. Sumber informasi yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir artikel ilmiah ini.

Bogor, 3 Maret 2011

Menyetujui

Ketua Departemen Ketua Pelaksana Kegiatan

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. Brayudanto Hardiyadi

NIP 195809 1519840 31003 NIM. E34080060



ii


P
1
ROSES SUKSESI VEGETASI GAMBUT DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH

Brayudanto Hardiyadi, Rizka N.S. Rahayu, Ikhwan Agustian

Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT

The main ecosystem of Sebangau National Park area is peat ecosystems. In many countries, including Indonesia, peat decreased due to incompatible land use such as drainage, fires and climate change. This causes a loss in biodiversity degradation and the benefit of peat to humans.

The method of succession is using plots measuring 10 x 10 m, divided into 4 plots. The size of that plot is 5 x 5 m. Existing plants in the plot were collected for identification purposes. The collected data were analyzed to determine species and numbers. Then the data is calculated to obtained Index of Similarity (IS).

The process of succession that occurred in the National Park Sebangau not yet reached the climax, seen from the IS which only 11%. The speed factor is influenced by the broader community succession beginning damaged by the disturbance, plant species that are around the scene of the succession, the properties of each plant species, the presence of life would, substrate type, and climatic conditions. Therefore it is necessary to attempt a serious treatment of all parties for this succession process to run faster.
Keyword : Succesion, Sebangau National Park, peat
ABSTRAK

Kawasan Taman Nasional Sebangau memiliki ekosistem utama yaitu ekosistem gambut. Di berbagai negara termasuk Indonesia, gambut mengalami penurunan kualitas akibat pemanfaatan yang tidak sesuai dengan fungsi lahan, pengeringan, kebakaran dan perubahan iklim. Hal ini menyebabkan kerugian dalam penurunan kualitas keanekaragaman hayati dan berkurangnya manfaat gambut langsung bagi manusia.

Metode suksesi dilakukan dengan menggunakan petak berukuran 10 x 10 m, yang dibagi yang dibagi menjadi 4 petak dengan ukuran 5 x 5 m. Tumbuhan yang ada dalam petak dikoleksi untuk keperluan identifikas,. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengetahui spesies dan jumlah vegetasinya. Kemudian data yang diperoleh dianalisis untuk memperoleh nilai Index of Similarity (IS).

Proses suksesi yang terjadi di Taman Nasional Sebangau belum mencapai klimaks, terlihat dari nilai IS yang hanya 11%. Kecepatan actor suksesi dipengaruhi oleh luas komunitas awal yang rusak oleh adanya gangguan, spesies tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi, sifat-sifat setiap spesies tumbuhan, kehadiran bakal kehidupan, jenis substrat, dan kondisi iklim. Oleh karena itu perlu upaya penanganan serius dari segala pihak agar proses suksesi ini dapat berjalan lebih cepat.
Kata kunci : Suksesi, Taman Nasional Sebangau, gambut

P
2
ENDAHULUAN


Latar Belakang

Kawasan Taman Nasional Sebangau memiliki ekosistem utama yaitu ekosistem gambut. Di berbagai negara termasuk Indonesia, gambut mengalami penurunan kualitas akibat pemanfaatan yang tidak sesuai dengan fungsi lahan, pengeringan, kebakaran dan perubahan iklim. Hal ini menyebabkan kerugian dalam penurunan kualitas keanekaragaman hayati dan berkurangnya manfaat gambut langsung bagi manusia.

Resort Sanitra Sebangau Indah (SSI) memiliki kawasan hutan yang pernah mengalami kebakaran dan hutan sekunder yang ada disekeliling camp SSI. Kawasan tersebut mengalami kebakaran pada tahun 2006 dan hutan sekunder tersebut akibat berdirinya perusahaan HPH. Kini, areal bekas kebakaran mengalami proses suksesi dan bersebelahan dengan hutan sekunder. Menurut Resosoedarmo dkk (1) proses suksesi merupakan proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung secara teratur dan menuju ke satu arah. Sedangkan menurut Gopal dan Bhardwaj (2) suksesi merupakan perubahan langsung secara keseluruhan pada selang waktu lama, bersifat kumulatif, di dalam komunitas tertentu dan terjadi pada tempat yang sama. Proses suksesi dibedakan menjadi dua tipe diantaranya yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder (3). Suksesi primer adalah suksesi yang terjadi pada habitat yang awalnya tidak bervegetasi hingga terbentuk masyarakat tumbuhan yang stabil atau klimaks (4). Sedangkan suksesi sekunder adalah suksesi yang terjadi pada lahan atau area yang pada awalnya telah bervegetasi sempurna, kemudian mengalami kerusakan oleh bencana alam maupun oleh aktivitas manusia, tetapi bencana itu tidak sampai merusak secara total tempat tumbuh sehingga masih ada substrat lama dan kehidupan (1).

Suksesi yang telah terjadi di kawasan Taman Nasional Sebangau ini termasuk kedalam tipe susksesi sekunder. Hal ini dikarenakan suksesi yang terjadi di lokasi tersebut terjadi setelah sebagian besar kawasan ini mengalami kebakaran akibat suhu yang tinggi. Sebelum terjadinya kebakaran tersebut kawasan Taman Nasional Sebangau merupakan hutan gambut yang masih utuh (berupa hutan primer). Namun peristiwa kebakaran tersebut tidak merusak secara total lokasi tersebut, masih ada substrat yang masih tersisa.


Rumusan Masalah

Kebakaran hutan yang terjadi di Taman Nasional Sebangau pada tahun 2006 mengakibatkan rusaknya sebagian kawasan hutan. Perlu waktu yang cukup lama agar kondisi hutan di kawasan Taman Nasional Sebangau untuk pulih kembali. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai proses suksesi di kawasan Taman Nasional Sebangau.


3

Tujuan

Mengetahui proses suksesi pada hutan gambut di Taman Nasional Sebangau.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Sebangau resort Sanitra Sebangau Indah (SSI) pada tanggal 7 Agustus 2010. Titik koordinat lokasi ini berada pada S 020 34’ 47,9” dan E 1140 02’ 02,7” dengan ketinggian 30 hingga 32 mdpl. Lokasi ini berada tidak jauh dari tepi kanal SSI kilometer 1 kearah utara. Plot pertama berada pada lahan bekas terbakar dan plot kedua berada di tepian hutan sekunder. Metode suksesi dilakukan untuk menganalisis degradasi lingkungan. Metode suksesi dengan menggunakan petak berukuran 10 m x 10 m, yang dibagi yang dibagi menjadi 4 petak dengan ukuran 5 m x 5 m. Tumbuhan yang ada dalam petak dikoleksi untuk keperluan identifikasi,. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengetahui spesies dan jumlahnya. Dalam kegiatan ini, jumlah anggota yang diperlukan sebanyak 4 orang. Sedangkan alat yang diperlukan, yaitu karung, label dan tali wol, alat tulis, parang, patok bambu, tali rafia, tambang, meteran 30 m dan GPS.

Data yang diperoleh kemudian diolah untuk mendapatkan nilai Indeks Kesamaan/Indeks of Similarity (IS) (2). Dimana IS merupakan dua kali dari jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua plot dibagi dengan jumlah spesies di dalam plot pertama dan plot kedua. Indeks Kesamaan menunjukan kesamaan antara kedua plot.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi Spesies

Komposisi spesies yang ditemukan di plot pengamatan suksesi berjumlah 24 spesies dengan 19 suku berbeda. Di plot pertama spesies tumbuhan yang ditemukan didominasi spesies tumbuhan bawah. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi bekas kebakaran tersebut sedang mengalami proses suksesi. Proses suksesi umumnya diawali dengan tumbuhnya pionir-pionir yang selanjutnya akan tumbuh menjadi tumbuhan bawah, lalu mulai munculnya anakan pohon (semai) yang kemudian akan tumbuh menjadi pancang, tiang dan akhirnya akan menjadi pohon-pohon besar yang memenuhi kawasan hutan dan menjadikan hutan kembali menjadi seperti semula. Suatu lokasi yang telah mengalami gangguan baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali menjadi hutan yang utuh seperti semula. Kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Sebangau ini baru berlalu empat tahun. Oleh karena itu tumbuhan yang mulai tumbuh di kawasan lahan bekas kebakaran ini umumnya adalah pionir-pionir dan tumbuhan bawah. Spesies-spesies pohon yang ditemukan di plot ini hanya sedikit.


4

Gambar I Komposisi famili tumbuhan di lokasi suksesi.



Kesamaan Spesies Antar Plot

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan dapat diketahui bahwa di plot kedua spesies tumbuhan yang ditemukan lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan spesies tumbuhan yang ada di plot pertama. Spesies yang ditemukan di plot pertama berjumlah 16 spesises dengan 12 suku berbeda. Sedangkan spesies yang ditemukan di plot kedua berjumlah 39 spesies dengan 26 suku yang berbeda. Didalam plot kedua ini terdapat 10 spesies tidak teridentifikasi. Data yang diperoleh hanya nama lokalnya saja diantaranya yaitu Kayu pendu, Tabaras, Karipak, Pandan (Paras), Pupuh pelanduk, Piais, Aras dan Sampahiring. Sedangkan di plot pertama spesies yang tidak teridentifikasi hanya 1 spesies yaitu Pandan 1. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, salah satunya yaitu rusaknya spesimen saat dalam perjalanan pulang sehingga spesimen tersebut tidak dapat teridentifikasi.

Ada beberapa spesies yang berada di plot pertama ditemukan kembali di plot kedua. Hal ini menunjukkan bahwa plot pertama proses suksesi berjalan dan menuju ke kondisi hutan sebelumnya (acto I).
T
5
abel I. Kesamaan spesies antar plot

Nama Lokal

Nama ilmiah

Suku

Pakis A (Kalakay)

Stenochlaena palustris Bedd.

Blechnaceae

Pakis B (Sangkuwuk)

Nephrolepis hirsutula (Forster) Presl

Oleandraceae

Pandan 2

Hypolytrum nemoum Beauv.

Cyperaceae

Spesies Q

Gynochtodes coriacea Blume

Rubiaceae

Garunggang

Cratoxylum glaucum Korth.

Hypericaceae


Estimasi Waktu Klimaks

Indeks kesamaan antar dua komunitas (Index of Similarity) merupakan suatau nilai yang menunjukkan bahwa besarnya perubahan komunitas vegetasi di plot pertama yang merupakan lahan bekas kebakaran dengan di plot kedua yang merupakan hutan sekunder. Nilai Indeks kesamaan (IS) terbesar 100% dan terkecil 0%. Nilai IS 100% apabila dua komunitas yang dibandingkan benar-benar sama seperti hutan sebelum terbakar dan mempunyai IS 0% jika dua komunitas tersebut sama sekali berbeda. Umumnya suatu komunitas dianggap telah mencapai suksesi maksimum (klimaks) jika memiliki nilai IS lebih dari 75 %.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, nilai IS yang diperoleh dari kesamaan spesies antar kedua plot yaitu 11%. Hal ini menunjukkan bahwa proses suksesi yang terjadi di plot pertama belum mencapai klimaks. Diperlukan waktu puluhan tahun agar hutan kembali ke kondisi semula, Resosoedarmo dkk. (1) menyebutkan bahwa kecepatan faktor suksesi dipengaruhi oleh luas komunitas awal yang rusak oleh adanya gangguan, spesies tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi, sifat-sifat setiap spesies tumbuhan, kehadiran bakal kehidupan, jenis substrat, dan kondisi iklim.
KESIMPULAN

Proses suksesi yang terjadi di hutan gambut Taman Nasional Sebangau adalah suksesi sekunder, hal ini dikarenakan proses suksesi terjadi di hutan bekas kebakaran. Proses suksesi yang terjadi di Taman Nasional Sebangau belum mencapai klimaks, terlihat dari nilai IS yang hanya 11%. Perubahan yang terjadi selama proses suksesi terlihat dengan adanya perkembagan sifat tanah, pertambahan densitas individu, peningkatan produktivitas komunitas, peningkatan jumlah spesies, peningkatan pemanfaatan sumberdaya lingkungan, perubahan iklim setempat, dan berkembangnya komunitas menjadi lebih komplek (1). Oleh karena itu perlu upaya serta penanganan serius dari segala pihak agar proses suksesi ini dapat berjalan lebih cepat.



D
6
AFTAR PUSTAKA


  1. Resosoedarmo S, K. Kartawinata, dan A. Soegiarto. 1986. Pengantar Ekologi. Bandung : Remadja Rosda Karya.

  2. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara.

  3. Anonim. 2010. Proses Suksesi Tumbuhan. Diakses secara bekala : www.google.com. [8 November 2010].

  4. Soerianegara,I dan A. Indrawan.1998. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor: Laboratorium Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

7


Lampiran 1 Data tumbuhan yang ditemukan di plot 1

Plot

Nama Lokal

Nama Spesies

Famili

Jumlah Individu

1

Pakis A (Kalakay)

Stenochlaena palustris Bedd.

Blechnaceae

389

2

Karamunting (Harendong)

Melastoma polyanthum Benth.

Melastomataceae

8

3

Pakis B (Sangkuwuk)

Nephrolepis hirsutula (Forster) Presl

Oleandraceae

41

4

Tabati

Syzygium zeylanicum DC.

Myrtaceae

1

5

Pakis C (Lampasau)

Nephrolepis sp.

Oleandraceae

71

6

Tampohod A

Eugenia cerina M.R. Herderson

Myrtaceae

3

7

Tampohod B

Aglaia sp.1

Meliaceae

2

8

Jenis X

Ficus sp.

Moraceae

28

9

Jenis Y

Ilex macrophylla Blume

Aquifoliaceae

2

10

Pandan 1

-

-

23

11

Jenis P

Lucinaea membranacea King

Rubiaceae

42

12

Pandan 2

Hypolytrum nemoum Beauv.

Cyperaceae

3

13

Jenis Q

Gynochtodes coriacea Blume

Rubiaceae

2

14

Garunggang

Cratoxylum glaucum Korth.

Hypericaceae

2

15

Nepenthes sp.

Nepenthes mirabilis (Lour.) Decne

Nepenthaceae

5

16

Matan udang

Antidesma trunciflorum Merr.

Euphorbiaceae

1

Total










623

L
8


ampiran 2 Data tumbuhan yang ditemukan di plot 2

Plot

Nama Lokal

Nama Spesies

Famili

Jumlah individu

1

Pakis A (Kalakay)

Stenochlaena palustris Bedd.

Blechnaceae

4

2

Pakis B (Sangkuwuk)

Nephrolepis sp.

Oleandraceae

99

3

Katiaw

Ganua motleyana Pierre

Sapotaceae

28

4

Mangkinang

Elaeocarpus griffithii A. Gray

Elaeocarpaceae

21

5

Jenis Q

Gynochtodes coriacea Blume

Rubiaceae

5

6

Akar kuning

Arcangelisia flava Merr.

Menispermaceae

20

7

Paku-pakuan 1

Taenitis blechnoides (Willd.) Swartz

Hemionitidiaceae

3

8

Pandan 2

-

-

6

9

Latak Manuk

-

-

5

10

Nyatu

Palaquium ridleyi King & Gamble

Sapotaceae

4

11

Tatumbu

Ixora havilandii Ridley

Rubiaceae

17

12

Pampaning

Lithocarpus leptogyne (Korth.) Soepadmo

Fagaceae

6

13

Jinjit

Calophyllum dasypodum Miq.

Clusiaceae

7

14

Garunggang

Cratoxylum glaucum Korth.

Hypericaceae

4

15

mendarahan

Myristica iners Blume

Myristicaceae

2

16

Kayu pendu

Litsea rufu-fusca Kosterm.

Lauraceae

2

17

Meranti bunga

Shorea parvifolia Dyer

Dipterocarpaceae

1

18

Tabaras

-

-

6

19

Tarantang

Campnosperma coriaceum (Jack.) H.Hallir.

Anacardiaceae

1

20

Liana 1

Combretum trifoliatum Vent.

Combretaceae

5

21

Latak manuk

Quasia borneensis Noot.

Simaroubaceae

4

22

Hampuak

Diospyros laevis Boj.ex A.DC.

Ebenaceae

3

23

Rambangun

Tetractomia tetrandra Craib.

Rutaceae

6

24

Karipak

-

-

2

25

Pandan (Paras)

-

-

7

26

Liana 2

Fibraurea tinctoria Lour.

Menispermaceae

6

27

Pupuh pelanduk

-

-

5

28

Liana 3

Pachycentria constricta Blume

Melastomataceae

6

29

Tutup kabali

Strychnos ignatii Berg.

Loganiaceae

4

L
9


ampiran 2 (lanjutan) Data tumbuhan yang ditemukan di plot 2

Plot

Nama Lokal

Nama Spesies

Famili

Jumlah individu

30

Jenis BB

Ternstroemia aneura Miq.

Theaceae

3

31

Tumih

Combretocarpus rotundatus Danser

Rhizophoraceae

2

32

Piais

-

-

2

33

Jenis CC

Elaeocarpus macrocerus (Turcz.) Merr.

Elaeocarpaceae

1

34

Kambasira

Ilex hypoglauca Loes.

Aquifoliaceae

5

35

Jenis DD

Elaeocarpus macrocerus (Turcz.) Merr.

Elaeocarpaceae

1

36

Belangiran

Shorea balangeran Burck.

Dipterocarpaceae

4

37

Blawan

Tristaniopsis whitheana (Griff.) P.G.Wilson & W.

Myrtaceae

1

38

Pandan Rasaukelep

Freycinetia scandens Gaudich.

Pandanaceae

5

39

Sampahiring

-

-

5

40

Aras

-

-

1

Total










319

Каталог: jspui -> bitstream -> 123456789
123456789 -> Yeni və orijinal nəticə və metodların təqdim edilməsi
123456789 -> Dövlət Statistika Komitəsinin məlumatına Təranə Həsənova bəzən abortlardan
123456789 -> Hamlet İsaxanlı Təsisçi və Rektor
123456789 -> Stimularea electrică funcţională Radu Breahnă, Irina Turtureanu
123456789 -> L. A. MƏMMƏdov, E.Ç. ƏKBƏrov, H.Ə. ƏKBƏrov
123456789 -> XƏZƏr universiteti humanitar və sosial elmlər faküLTƏSİ
123456789 -> Azərbaycan Arxeologiyası 2002 Azerbaijan Archeology Vol.: 4 Num.: 3-4
123456789 -> Еколожи Епидемиолоэийа: Сящиййядя Тятбиги вя Тядгигат Методлары
123456789 -> AZƏrbaycan respublikasi təHSİl naziRLİYİ XƏZƏr universiteti
123456789 -> I fəSİL. TÜTÜn haqqinda üMÜMİ MƏlumat


Поделитесь с Вашими друзьями:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©www.azkurs.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə