Pemanfaatan bahan nabati tumbuhan indonesia untuk pengendalian hama kumbang bubuk



Yüklə 2.62 Mb.
səhifə1/3
tarix16.07.2017
ölçüsü2.62 Mb.
  1   2   3

M Sudjak Saenong dan Ayyub Arrachman: Pemanfaatan bahan nabati tumbuhan Indonesia untuk pengendalian hama kumbang bubuk Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera:Curculionidae) pada biji jagung dalam periode penyimpanan bahan



1203
PEMANFAATAN BAHAN NABATI TUMBUHAN INDONESIA UNTUK PENGENDALIAN HAMA KUMBANG BUBUK Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera:Curculionidae) PADA BIJI JAGUNG DALAM PERIODE PENYIMPANAN BAHAN

USING BOTANICAL MATERIALS OF INDONESIAN PLANTS FOR CONTROLING PEST POWDERPOST BEETLES Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera:Curculionidae) IN CORN KERNELS DURING THE PERIOD OF MATERIALS STORAGE

M. Sudjak Saenong dan Ayyub Arrachman

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

Jl.Dr Ratulangi No.274 Kotak Pos 173, Maros 90514, Indonesia

Tlp (0411)-371529, Faks: (0411)-371961

E-mail : xie_yeuw_jack@yahoo.com

ABSTRAK

Plasma Nutfah tumbuhan Indonesia merupakan kekayaan alami nusantara yang ragamnya sangat banyak dan potensial untuk diubah menjadi bahan pestisida yang aman terhadap manusia, kesehatan dan lingkungan. Dari 400.000 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi bahan kimianya, 10.000 diantaranya tercatat mengandung bahan metabolite sekunder yang merupakan bahan dasar dari pestisida nabati. Lebih spesifik lagi telah diidentitifikasi, dari 10.000 tanaman tersebut di atas, 2400 jenis yang tersebar dalam 235 famili saat ini sudah banyak diproduksi dan digunakan sebagai bahan utama dari pembuatan pestisida nabati modern yang banyak beredar dipasaran dan bahkan praktek-praktek seperti telah dilakukan petani sejak tahun 1690, misalnya pada penggunaan daun tembakau di Perancis untuk pengendalian hama kepik dan penggunaan bunga pirethrum untuk pengendalian hama kutu. Bertolak dari pengalaman masa lalu bahwa kasus-kasus keracunan dan pencemaran akibat penggunaan senyawa pestisida sintetis sangat besar, FAO mencatat ada sekitar 400.000 kasus uang terjadi diseluruh dunia. Data menggugah pikiran kita bahwa betapa pentingnya sumbangan kekayaan alam nasional yang bisa disumbangkan dalam rangka penanganan hama pengganggu tumbuhan. Makalah ini akan membahas dan mengemukakan beberapa hasil-hasil peneliti yang memanfaatkan senyawa bahan nabati tumbuhan Indonesia khususnya dalam menangani infestasi serangga hama kumbang bubuk Sitophilus zeamais Motsch pada biji jagung dalam periode penyimpanan. Tumbuhan-tumbuhan yang dikaji manfaatnya antara lain: 1) Manfaat daun Sereh (Cymbopogon Citratus), daun Bawang Merah (Allium cepa var ascalonicum (L) Back), daun Bawang Putih (Allium sativum), Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum) dan daun Dringo (Acorus calamus), 2) manfaat Tembelekan (Lantana camara), Bandotan atau Babandotan (Ageratum conysoides), Akar Wangi (Andropogon nardus), dan Tanaman Lombok Merah (Capsicum annum), 3) manfaat Ketepeng Cina (Cassia alata), daun Alang-alang (Imperata cylindrical), daun Putri Malu (Mimosa pudica), dan Umbi teki (Cyperus rotundus), daun Patikan Kebo (Euphorbia hirta), 4) manfaat Ekstrak Kencur (Kaempferia galanga L), 5) manfaat daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss; Mileaceae), 6) manfaat serbuk Lada Hitam (Piper nigrum), 7) manfaat serbuk biji Jarak Pagar (Jatropa curcas L), serbuk biji Sirsak (Annona muricata L.), serbuk biji Mengkudu (Morinda citrifolia L.). Diharapkan bahwa tulisan ini akan memberi wacana dan informasi bagi peneliti lain yang memerlukan kajian dengan serangga hama target yang sama atau memberi pencerahan bagi para produsen pestisida untuk mengambil manfaat dari informasi tulisan ini.

Kata Kunci : Bahan Nabati, Hama Kumbang Bubuk, Penyimpanan Bahan



ABSTRACT

Germplasms of Indonesian plants are the country’s natural resources with abundant varieties and can potentially be transformed into a pesticide which is safe for humans, health and the environment. Of 400,000 plant species whose chemical contents have been identified, 10,000 have been found to contain secondary metabolites which are used as the basic ingredient for botanical pesticide manufacture. More specifically, of those 10,000 plants, 2400 species which spread across 235 families are currently produced widely and used as the primary ingredient for modern botanical pesticide manufacture and many are sold in the market. Such practices have even lasted since 1690 among farmers, for example the utilization of tobacco leaves in France for ladybug pest control and pyrethrum flowers for flea pest control. Based on the experience in the past that so many cases of poisoning and pollution were resulted from the use of synthetic pesticide compounds, FAO reported that approximately 400,000 cases recurred around the world. These data show us that the country’s natural resources may provide a significant contribution to the handling of pests with detrimental effects to plants. This paper will discuss and bring up several findings of the research into using the compounds of botanical materials derived from Indonesian plants, especially to deal with the infestation of pest powderpost beetles Sitophilus zeamais Motsch in corn kernels during the storage period. The plants examined in terms of the benefits they provide included: 1) the benefits of Citronella leaves (Cymbopogon Citratus), Onion leaves (Allium cepa var ascalonicum (L) Back), Garlic leaves (Allium sativum), Clove flowers (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum) and sweet flag (Acorus calamus), 2) the benefits of Big sage (Lantana camara), billygoat-weed (Ageratum conysoides), Fragrant roots (Andropogon nardus), and Red chilli plants (Capsicum annum), 3) the benefits Emperor's candlesticks (Senna alata), Blady grass leaves (Imperata cylindrical), Sleepy plant leaves (Mimosa pudica), Coco-grass (Cyperus rotundus), and Asthma-plant leaves (Euphorbia hirta), 4) the benefits of extracted Aromatic ginger or  Cutcherry (Kaempferia galanga L), 5) the benefits of Neem leaves (Azadirachta indica A. Juss; Mileaceae), 6) the benefits of Black Pepper powder (Piper nigrum), 7) the benefits of Barbados nut powder (Jatropa curcas L), Soursop seed powder (Annona muricata L.) and Noni seed powder (Morinda citrifolia L.). Hopefully this paper will provide insights and information for other researchers who conduct research into the same target insect pest or enlighten pesticide manufacturers so that they can make the most of the information provided in this paper.

Keywords: Botanical Materials, Pest Powderpost Beetles, Materials Storage


PENDAHULUAN

Pestisida nabati adalah jenis pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan, mempunyai kandungan bahan aktif yang dapat mengendalikan serangga hama. Pemanfaatan pestisida nabati sudah dipraktekkan sejak 3 abad yang lalu, yakni pada tahun 1690 petani di Perancis telah menggunakan perasan daun tembakau untuk mengendalikan hama kepik pada buah persik. Tahun 1800, bubuk tanaman pirethrum digunakan untuk mengendalikan kutu. Penggunaan pestisida nabati selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, harga yang harus dibayar petani dan pengguna lain relatif lebih murah dibandingkan dengan pestisida kimia (Sudarmo, 2005).

Secara evolusi, sebenarnya tumbuhan telah mengembangkan dan memproduksi bahan kimia alami sebagai alat pertahanan diri terhadap serangga pengganggu. Tumbuhan mengandung banyak bahan kimia yang merupakan metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Tumbuhan sebenarnya kaya akan bahan bioaktif, walaupun hanya sekitar 10.000 jenis produksi metabolit sekunder yang telah teridentifikasi, tetapi sesungguhnya jumlah bahan kimia pada tumbuhan yang potensial sebagai pestisida nabati dapat melampaui 400.000 jenis. Grainge et al., 1984 dalam Sastrosiswojo (2002), melaporkan ada 1800 jenis tanaman yang mengandung pestisida nabati yang dapat digunakan untuk pengendalian hama. Di Indonesia, sebenarnya sangat banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati, dan diperkirakan ada sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 famili (Kardinan, 1999).

Menurut Takahashi (1981), pada dasarnya bahan alami yang mengandung senyawa bioaktif dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu; a) bahan alami dengan kandungan senyawa antifitopatogenik (antibiotika pertanian), b) bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat fitotoksik atau mengatur tumbuh tanaman (fitotoksin, hormon tanaman dan sejenisnya) dan c) bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifidan, repelen, atraktan dan insektisidal). 

Secara umum mekanisme kerja pestisida nabati dalam melindungi tanaman dari organisme pengganggu antara lain adalah menghambat proses reproduksi serangga hama khususnya serangga betina, mengurangi nafsu makan, menolak makanan, merusak perkembangan telur, larva dan pupa sehingga perkembangbiakan serangga hama dapat dihambat, menghambat pergantian kulit. Berdasarkan cara kerjanya (sifatnya) maka dapat pestisida nabati dapat digolongkan dengan kelompok repelan, yaitu menolak kehadiran serangga misalnya dengan bau yang menyengat, kelompok antifidan, yaitu mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot, menghambat reproduksi serangga betina, bertindak sebagai racun syaraf, mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga, kelompok atraktan, yakni sebagai pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga, dan mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri (Lisa Marianah, 2016) dan ada juga kelompok pestisida nabati yang berpengaruh dalam menurunkan preferensi serangga dalam mengakses sumber makanan (Bedjo. 1993; dan Erliana, 1991).

GAMBARAN UMUM TENTANG HAMA KUMBANG BUBUK S. zeamais MOTSCH
Potensi merusak, bahaya dan kerugian yang ditimbulkan

S. zeamais Motschulsky (Coleoptera:Curculionidae) dikenal sebagai hama penting pada produk serealia di daerah tropik maupun sub-tropik (Hoffman 2000; Throne 1994; dalam Lina Herlina dan Bonjok Istiaji, 2013), terutama yang disimpan tanpa diproteksi dengan perlakuan kimia. Hama ini bersifat polifag karena mampu menyerang beberapa komoditi tanaman seperti jagung, sorgum, beras, gandum, dan produk makanan olahan, di antaranya pasta dan biskuit.

Menurut FAO (1974) dalam Manueke (1993), kerusakan pada produk pascapanen atau bahan simpanan sangat berarti dan mempunyai nilai penting secara ekonomi karena, a) bahan tersebut sudah siap dikonsumsi, b) bahan tersebut telah menghabiskan biaya yang cukup banyak yaitu mulai dari pembenihan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan dan panen. Jadi kerusakan yang sedikit pada bahan pascapanen sudah merupakan kerugian yang besar di bandingkan dengan serangan organisme pengganggu tanaman dipertanaman. Selain itu, adanya infestasi serangga akan berakibat pada perubahan baik kualitas maupun kuantitas dari bahan pascapanen seperti perubahan warna dan rasa serta bau yang tidak enak atau bahkan adanya kontaminasi penyakit yang terbawa oleh organisme tersebut misalnya tumbuhnya jasad renik aflatoksin.

Pada banyak literatur dikatakan bahwa hama ini mampu menyebabkan kerusakan antara 26-29% (Semple, 1985), bahkan di atas 30% pada komiditas bahan simpan, di Sulawesi Selatan nilai kerusakan pernah dicatat mencapai angka 85% dengan kemampuan menyusutkan bahan sampai 17% (Tandiabang et.al.,2008; dalam Hasnah et.al.,2014). Bila kadar air cukup tinggi misalnya berkisar antara 18-20% maka serangan hama ini dapat menyebabkan kerusakan antara 30-40% (Garcia-Lara dan Bergvinson 2007). Pakan (1997) menyatakan bahwa serangan S. zeamais Motsch dapat menyebabkan susut bobot 12,65–21,54 %. akan tetapi apabila serangan hama ini terjadi bersama-sama dengan hama gudang lain maka kerugian ditimbulkannya justru prosentasenya lebih rendah 24,5%. Fakta ini mungkin akibat oleh adanya kompetisi dalam hal tempat dan sumber makanan dengan serangga S.zeamais Motsch menyebabkan S.zeamais Motsh tidak terlalu aktif melakukan infestasi pada biji yang disimpan. Selain merusak secara langsung, serangan hama ini dapat mengurangi kualitas gizi, berat biji, prosentase perkecambahan, yang pada gilirannya akan menurunkan nilai pasar (Napoleao et al., 2013; Tefera et al., 2011; dalam Lina Herlina dan Bonjok Istiaji, 2013). Serangan pada biji jagung dapat menurunkan berat yang sangat drastis, sedangkan pada beras penurunannya cukup ringan (Morallo dan Javier, 1980).

Bila dilihat dari kisaran prosentase kerusakan yang dicatat oleh beberapa peneliti yang telah diuraikan di atas, maka jelas sekali bahwa kemampuan merusak dan kerugian ekonomi dari serangan hama kumbang bubuk bila dihitung dalam skala nasional ternyata nilai komulatifnya sangat besar. Sebagai ilustrasi, bila produksi rata-rata jagung di tingkat petani adalah 6 t/ha dikurangi prosentase rata-rata kerusakan dari total produktivitas tanaman kemudian dikalikan dengan harga jagung per kg atau per ton maka hasilnya cukup fantastis sekali dalam menyumbang kerugian di tingkat petani maupun terhadap kerugian negara.

Rajesus,1981; ICRISAT,1988; FAO,1977 menyatakan bahwa angka kehilangan hasil bisa mencapai 20 % terjadi sewaktu panen, penjemuran, pemipilan, pengangkutan, dan penyimpanan. Kehilangan hasil dari tiap-tiap tahap tersebut berlainan menurut daerah dan sistim produksinya. Akan tetapi, tahap penyimpanan merupakan tahap yang paling kritis, dan hama gudang merupakan faktor utama yang menimbulkan masalah serius pada tahap ini yang biasanya terjadi sangat drastis sekali (Morallo dan Javier,1980; Bedjo,1992).

Porntip dan Sukpraharn, 1974; Teetes et al., 1983 menyatakan bahwa pada daerah-daerah iklim daerah tropis S. zeamais Motsch merupakan hama utama dan sering dijumpai baik sewaktu tanaman masih di lapangan maupun setelah berada dalam gudang-gudang penyimpanan, sedang di Honduras hama ini hanya ditemukan dalam gudang penyimpanan saja (Hoppe, 1986), akan tetapi Jorge (1981) menyatakan bahwa ternyata S. zeamais Motsch bukan hanya menyerang di tempat penyimpanan bahan saja akan tetapi dapat menyerang sejak tanaman masih pada stadia muncul malai menjelang panen sampai biji berada tempat penyimpanan.


Ekologi dan interaksinya dengan faktor lingkungan

Telah banyak usaha-usaha para ahli melihat lebih jauh untuk mendapatkan cara yang mantap atau sebaik mungkin guna dapat mengendalikan dan mengatasi gangguan hama baik pada kondisi tanaman masih berada di lapangan maupun pada saat pasca panen (periode penyimpanan). Keberhasilan para ahli dalam kegiatan dan usaha ini harus ditunjang oleh pengetahuan tentang urgensinya memahami ekologi suatu serangga hama dan interaksinya dengan faktor lingkungan sekitarnya khususnya hama kumbang bubuk pada tanaman serealia jenis jagung.

Ekologi hama adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara faktor luar lingkungan dengan serangga hama di mana lingkungan tersebut menentukan perkembangan maupun kemunduran dari populasi suatu serangga hama. Untuk hama kumbang (hama gudang) faktor-faktor tersebut dibagi atas; faktor makanan (kualitas, kadar air), faktor iklim (temperatur, kelembaban, cahaya, aerasi), keadaan musuh alami (predator, parasit, patogen), dan faktor kegiatan manusia (Kartasapoetra, 1991). Faktor-faktor tersebut di atas dapat mempengaruhi kehidupan serangga hama tanaman dan juga produk pertanian dalam simpanan, baik secara sendiri maupun secara bersama.

Makanan yang cukup sangat berpengaruh pada perkembangbiakan hama, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan populasi hama. Iklim berpangaruh besar baik terhadap serangga hamanya maupun kondisi musuh alamnya (Kartasapoetra, 1991). Musuh alam yang keberadaannya seimbang dengan serangga hama akan dapat berperan sebagai agen pengendali yakni keberdaannya akan berfungsi menekan peningkatan populasi serangga hama, sebaliknya bila jumlah populasi musuh alaminya kecil maka peranannya juga akan semakin kecil.

Faktor kegiatan manusia dalam mengeksploitasi alam dan tanaman dapat menimbulkan masalah baru misalnya dengan munculnya hama baru, yakni serangga non hama yang karena ekologinya terganggunya (niche makanan dan lingkungan) akan berubah menjadi serangga hama yang merusak tanaman yang dibudidayakan. Demikian pula dengan upaya manusia dalam menekan serangga hama misalnya dalam pemanfaatan senyawa kimia berbahaya dalam jangka panjang akan berdampak pada timbulkan resistensi hama terhadap suatu senyawa kimia tertentu atau dapat pula berupa terjadinya peletupan hama sebagai akibat dari adanya senyawa kimia pembasmi hama yang justru berperan atau merangsang tingkat kesuburan dari serangga hama tersebut.
Nomenklatur, spesies, inang, jejak serangan, sebaran, morfologi, taksonomi dan atribut biologinya
Nomenklatur. Penamaan serangga kumbang bubuk sebagai Sitophilus sp pertama kali dikenal pada tahun 1763 di Suriname dan diperkenalkan oleh Linneaus dengan nama Curculio oryzae (Grist dan Lever, 1969). Kemudian namanya diperbaharui menjadi Calandra oryzae dan terakhir diubah menjadi Sitophilus oryzae, dan nanti pada tahun 1885 baru ditemukan Sitophilus zeamais oleh Motschulsky, kemudian belakangan CABI (2016) mempublikasikan nama ilmiah lain yang disitir dari beberapa peneliti internasional untuk penamaan dari serangga ini antara lain :


  • Calandra chilensis (Philippi & Philippi)

  • Calandra oryzae

  • Calandra oryzae platensis

  • Calandra platensis (Zacher)

  • Calandra quadrimacula (Walker)

  • Calandra zeamais Motschulsky

  • Calandra zemais (Motschulsky)

  • Calendra zeamais Motschulsky

  • Sitophilus oryzae platensis

  • Sitophilus oryzae zeamaiz Motschulsky

Kutchel, (1961) berpendapat bahwa sebenarnya S. zeamais  dan S. oryzae merupakan dua spesies yang sama akan tetapi referensi Wikipedia (2016a) beberapa peneliti menyatakan bahwa sebenarnya keduanya merupakan variasi dari spesies yang berbeda. Karena kemiripan hidupnya, bentuk anatomi luar dan dalam (walaupun ukuran besar kecilnya berbeda) maka dahulu serangga ini hanya disebut sebagai S. oryzae (small grain weevil) (Pranata, 1979), hanya saja yang membedakan keduanya adalah bahwa secara umum S. oryze Linn banyak ditemukan pada serealia jenis beras di mana komoditas beras merupakan makanan utamanya dengan penampakan bentuk tubuh yang lebih kecil sedangkan S. zeamais Motsch ditemukan pada serealia jenis jagung dan komoditas bahan simpan lain dengan penampakan bentuk tubuh lebih besar (greater grain weevil). Keduanya tidak dapat dibedakan baik dari anatomi luar dan anatomi dalam, demikian pula bila dilakukan pemeriksaan genitalia (alat kelamin) yaitu aedeagi pada jantan dan sklerit Y pada betina yang mana bentuk keduanya terlihat sama (Kutchel, 1961)


Spesies. Diketahui ada 2 genus yaitu Sitophilus oryzae Linn dan Sitophilus zeamais Motsch (Teetes et.al., 1983), sebelumnya serangga ini dikenal sebagai Calandara oryzae kemudian terbagi menjadi Sitophilus oryzae Linn yaitu kumbang yang berukuran kecil, sedang yang berukuran lebih besar adalah S. zeamais Motsch, namun karna serangga ditemukan pada komoditas jagung dan yang paling merusak komoditas ini maka kemudian diidentifikasi sebagai serangga S. zeamais Motsch (Van der Laan, 1981).

Berdasarkan referensi Plarre, (2010) dan Wikipedia (2016b), diidentifikasi kira-kira ada sekitar 14 species dari hama kumbang bubuk ini yang sudah diketahui antara lain termasuk di antaranya terdapat fosil 1 taxa yang dapat diidentifikasi masuk dalam kategori 14 spesies tersebut antara lain:



  • Sitophilus conicollis

  • Sitophilus cribrosus

  • Sitophilus erosa

  • Sitophilus glandium

  • Sitophilus granarius wheat weevil, granary weevil

  • Sitophilus linearis – tamarind weevil

  • Sitophilus oryzae – rice weevil

  • Sitophilus quadrinotatus

  • Sitophilus rugicollis

  • Sitophilus rugosus

  • Sitophilus sculpturatus

  • Sitophilus vateriae

  • Sitophilus zeamais – maize weevil

  • Sitophilus punctatis-simus – diidentifikasi sebagai fosil taxanya


Inang. S. zeamais Motsch merupakan serangga yang bersifat polifag yang paling sering ditemukan dan paling merusak pada komoditas bahan pangan dalam simpanan. Selain menyerang komitas serealia (jagung, beras, sorgum dan gandum), serangga ini juga menyerang tanaman kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, dan komoditas lain seperti kelapa dan jambu mente, akan tetapi di lapangan serangga hama ini lebih dominan ditemukan pada komoditas jagung sebagai inang utamanya (Caliboso et al. 1985). Ukuran tubuh serangga ini dipengaruhi oleh kondisi makanannya, pada biji yang berukuran besar ukuran hama ini juga besar, begitu pula sebaliknya. Selain merusak biji pada periode penyimpanan bahan, serangga hama ini juga dapat menyerang tongkol jagung sejak tongkol masih berada di pertanaman.

Samuel (1974) dan Anonim (1983) melaporkan bahwa walaupun terdapat hama gudang lain seperti Cryptolestus fussilus, Tribolium comfusum, T. castaneum, Rhyzoperta dominica, Corcyra chevalonica, dan Sitotroga cerealella yang juga menyerang biji tanaman serealia dari jenis jagung dan sorgum dalam periode penyimpanan, akan tetapi S. zeamais Motsch adalah serangga yang paling dominan dan yang paling signifikan merusak secara ekonomi.


Каталог: files -> journals
journals -> Transplantologiya 2014. № P. 21-27. The effects of Peroxiredoxin VI on the preservation of the small intestine in rats after ischemia / reperfusion damage
journals -> Reviewing Procedure for the manuscripts submitted to the Journal «Transplantologiya»
journals -> Transplantologiya 2014. № P. 28-33
journals -> Transplantologiya 2014. № P. 6-11
journals -> Transplantologiya – 2014. № – P. 17–22. Experience of using anidulafungin for the treatment of invasive candidiasis in a patient after liver transplantation
journals -> Cdrh: database of complex disease-related haplotype in human
journals -> Issn 1010 Orijinal araştırma (Original article)
journals -> Evaluation of Hyptis suaveolens (L.) for the management of Callosobruchus maculatus (F.) on two varieties of cowpea, Vigna unguiculata walp
journals -> Influence of full mouth rehabilitation on oral health related quality of life among disabled children


Поделитесь с Вашими друзьями:
  1   2   3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©www.azkurs.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə