Neuron “Layaknya membangun sebuah rumah, kita akan memulainya dengan menyusun batu bata dan materi konstruksi lainnya, setahap demi setahap dari fondasinya



Yüklə 234.95 Kb.
tarix12.05.2017
ölçüsü234.95 Kb.
NEURON
Layaknya membangun sebuah rumah, kita akan memulainya dengan menyusun batu bata dan materi konstruksi lainnya, setahap demi setahap dari fondasinya. Demikian halnya untuk memahami kaitan antara pikiran,otak, dan perilaku, maka kita harus membahasnya dari sel-sel yang menyusun sistem saraf”
Manusia adalah makhluk hidup yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya, dengan demikian aktivitas dan fungsi tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Ketika berada dalam cuaca panas, tubuh akan menyeimbangkan suhu tubuh agar selalu dalam kondisi stabil tidak kepanasan dengan jalan mengeluarkan keringat, sehingga suhu tubuh yang mungkin awalnya sempat naik akan perlahan-lahan kembali dingin sebagaimana temperatur tubuh semula. Demikian sebaliknya ketika cuaca sangat dingin, tubuh akan mendeteksi adanya penurunan temperatur udara dan tubuh bereaksi dengan cara menaikkan suhu tubuh agar tidak kedinginan. Jika terjadi penurunan suhu tubuh akibat mekanisme alamiah tubuh untuk menaikkan temperatur tidak dapat berlangsung normal, hal itu dapat mengganggu metabolism tubuh secara keseluruhan, dan pada kondisi fatal dapat mengakibatkan kematian.

Semua rangsang, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh akan dideteksi oleh sel reseptor yang terdapat di seluruh tubuh. Sel-sel tersebut bertugas menerjemahkan rangsang menjadi impuls saraf untuk diantarkan oleh neuron (sel saraf) menuju ke pusat saraf (otak atau sumsum tulang belakang). Menurut perkiraan, jumlah neuron yang ada di dalam otak orang dewasa kurang lebih adalah 100 milyar (William & Herrup dalam Kalat, 2010). Di dalam pusat saraf, impuls akan dipersepsi sehingga individu menyadari hadirnya stimulus. Berdasarkan hasil persepsi, maka dibentuklah tanggapan atau respon, baik yang disadari atau tidak disadari. Tanggapan atau respon yang terbentuk di dalam pusat saraf akan diubah kembali menjadi impuls saraf untuk diantarkan oleh neuron yang lain menuju ke anggota tubuh (organ efektor) yang akan diwujudkan dalam bentuk perilaku.

Neuron di dalam tubuh membentuk suatu sistem saraf. Sistem ini merupakan satu dari dua sistem kontrol utama yang terdapat di dalam tubuh. Sistem kontrol satunya adalah sistem endokrin. Sistem saraf dibentuk oleh jaringan interaktif kompleks dari 3 jenis dasar sel saraf, yaitu neuron aferen (sensory neuron), neuron eferen (motor neuron), dan antar neuron (interneuron). Neuron motorik memiliki badan sel yang terletak di dalam sumsum tulang belakang. Melalui dendrit neuron motorik menerima eksitasi listrk dari neuron lain dan menghasilkan impuls listrik di sepanjang aksonnya menuju ke otot. Neuron sensorik telah terspesialisasi menjadi sangat peka terhadap salah satu bentuk stimulasi, seperti stimulasi sentuhan pada kulit.

Fungsi sistem saraf secara umum adalah melakukan koordinasi atau kontrol terhadap hampir sebagian besar otot dan kelenjar tubuh yang sebagian besar ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan atau homeostatis, misalnya gerakan otot. Sejak awal pembentukannya, sistem saraf mempunyai sifat mengatur yang sangat kompleks dan khusus. Ia menerima berjuta-juta rangsangan informasi yang berasal dari bermacam-macam organ sensorik, dan semua itu bersatu untuk menentukan respon apa yang akan diberikan oleh tubuh. Sementara sistem endokrin menyekresikan hormon ke dalam darah guna mengontrol aktivitas metabolik dan aktivitas lain yang lebih memerlukan durasi daripada kecepatan. Misalnya, mempertahankan kadar gula darah.

Walaupun demikian, keduanya akan mengubah jaringan sasaran (sel target) dengan mengeluarkan zat perantara kimiawi yang berinteraksi melalui proses tertentu dengan reseptor spesifik (protein membran tertentu) yang terdapat pada sel atau jaringan sasaran. Ada 2 macam perantara kimiawi dalam tubuh: (1) neurostransmiter, dikeluarkan oleh neuron (sel saraf); (2) hormon, dikeluarkan oleh kelenjar endokrin.
Anatomi neuron

Sebuah neuron (sel saraf) biasanya terdiri dari 3 bagian utama, yaitu badan sel, dendrit, dan akson. Badan sel adalah bagian yang di dalamnya ditemukan nukleus dan organel-organel lain. Dendrit adalah sejumlah besar tonjolan pada badan sel, biasanya menyerupai akar pohon atau antenna untuk memperluas permukaan yang memungkinkan penerimaan sinyal dari sel saraf lain. Dendrit membawa sinyal ke arah badan sel. Pada sebagian besar neuron, membran plasma badan sel dan dendrite mengandung reseptor-reseptor protein untuk mengikat zat perantera kimiawi (neurotransmiter) dari neuron lain.



Akson atau serat saraf adalah tonjolan tunggal, memanjang, berbentuk pipa yang menghantarkan potensial aksi menjauhi badan sel dan berakhir di sel saraf lain. Akson sering mengandung cabang-cabang sisi atau kolateral sepanjang seratnya. Bagian dari badan sel yang merupakan tempat keluarnya akson disebut dengan istilah bukit akson (axon hillox). Bagian ini adalah tempat potensial aksi bermula pada sebuah neuron. Akson panjangnya bervariasi, mulai dari kurang dari 1 mm pada neuron-neuron yang hanya berhubungan dengan sel-sel tetangganya, sampai lebih dari 1 m pada neuron-neuron yang berhubungan dengan bagian-bagian sistem saraf yang jauh atau dengan organ perifer.

Pada bagian ujung akson biasanya didapai percabangan yang cukup banyak (menyerupai akar pohon juga) yang disebut telodendrion. Di setiap ujung telodendrion akan ditemukan bulatan-bulatan kecil yang disebut button terminal atau terminal akson. Terminal-terminal ini mengeluarkan zat perantara kimiawi yang secara simultan memengaruhi banyak sel lain yang berhubungan erat dengan terminal tersebut. Ujud contoh neuron dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini:



2-9a-1.jpg

Terlepas dari bagian-bagian sel saraf, sebenarnya sel saraf dapat diklasifikasikan sesuai bentuk cabangnya. Menurut bentuk cabangnya dikenal 3 jenis neuron, yaitu neuron unipolar, neuron bipolar, dan neuron multipolar.



Neuron unipolar hanya mempunyai 1 cabang pada badan sel sarafnya, kemudian cabang akan terbelah 2, sehingga bentuk neuron unipolar akan menyerupai huruf “T”. satu belahan berperan sebagai dendrit, sedangkan yang lain sebagai akson. Neuron unipolar umumnya mempunyai fungsi sebagaimana sensory neuron, yaitu sebagai pembawa sinyal dari bagian tubuh (sistem saraf perifer) menuju ke sistem saraf pusat.

Neuron bipolar, sesuai namanya, mempunyai 2 cabang pada badan sel sarafnya di sisi-sisi yang berlawanan. Cabang yang 1 berperan sebagai dendrit, sedangkan yang lain berperan sebagai akson. Oleh karena percabangan yang demikian ini, maka badan sel saraf neuron bipolar mempunyai bentuk yang agak lonjong/elips. Neuron bipolar umumnya berfungsi sebagaimana interneuron, yaitu menghubungkan berbagai neuron di dalam otak dan sumsum tulang belakang.

Neuron multipolar adalah jenis sel saraf yang paling umum dan paling banyak ditemukan. Sel saraf ini mempunyai dendrit lebih dari satu, tetapi hanya memiliki sebuah akson. Oleh karena jumlah dendrit pada setiap neuron multipolar bias bervariasi banyaknya, maka bentuk badan sel saraf multipolar ini seringkali dikatakan berbentuk multigonal. Neuron multipolar umumnya berfungsi sebagaimana motoneuron, yaitu membawa sinyal/isyarat dari sistem saraf pusat menuju ke bagian lain dari tubuh, seperti otot, kulit, ataupun kelenjar. Berbagai jenis bentuk neuron dapat dilihat pada Gambar 2 berikut:

brain-neuron-types.gif

Neuroglia

Sekitar 90% sel di dalam susunan saraf pusat bukan berupa neuron, tetapi sel glia atau neuroglia. Walaupun jumlahnya sangat besar, sel glia hanya menempati sekitar separuh dari volume otak, karena sel-sel ini tidak memiliki cabang-cabang ekstensif seperti neuron. Sel glia tidak memulai atau menghantarkan impuls saraf seperti neuron, tetapi penting perannya untuk viabilitas susunan saraf pusat. Sel glia berfungsi sebagai jaringan ikat susunan saraf pusat dan membantu menunjang neuron, baik secara fisik maupun metabolik.



Sel-sel glia dibedakan atas: (1) yang terdapat dalam susunan saraf pusat, yaitu: astrosit dan oligodendrosit; (2) yang terdapat dalam susunan saraf tepi, yaitu sel Schwann. Astrosit, sesuai namanya, “astro” yang berarti bintang dan “cyte” yang berarti sel, maka astrosit merupakan sel glia yang berbentuk menyerupai bintang. Astrosit mempunyai sejumlah fungsi, beberapa diantaranya adalah:

  1. Sebagai “perekat” utama susunan saraf pusat, yaitu menyatukan beberapa neuron dalam hubungan spasial yang sesuai

  2. Sebagai pengarah pertumbuhan neuron selama perkembangan otak pada masa janin

  3. Secara fungsional, astrosit membentuk benteng darah otak, yaitu suatu barikade yang sangat selektif dalam menghambat berpindahnya penyakit yang menuju otak melalui darah

  4. Menunjang neuron secara metabolik, yaitu menyiapkan bahan-bahan dasar yang dibutuhkan neuron untuk membentuk neurotransmitter

  5. Membantu memelihara konsentrasi ion cairan ekstrasesuler otak sehingga memungkinkan eksitabilitas jaringan saraf berlangsung normal.

Wujud astrosit dapat disaksikan pada Gambar 3 di bawah ini.

neuron.png

Oligodendrosit mempunyai beberapa tonjolan memanjang yang masing-masing melilit bagian akson dari beberapa neuron terdekat untuk membentuk selaput myelin. Bentuknya seperti terlihat pada Gambar 4 berikut ini.

gemd_02_img0071.jpg

Sel Schwann, sebagaimana oligodendrosit, di dalam sel saraf perifer juga membentuk selaput myelin yang selain bersifat isolatif, juga sangat berperan sebagai pengarah pertumbuhan tunas-tunas akson yang baru. Jka suatu akson saraf perifer terputus, maka bagian akson terjauh dari badan sel mengalami degenerasi dan sel-sel Schwann sekitarnya akan memagosit sisa-sisa sel tersebut. Sel Schwann sendiri tetap utuh dan membentuk suatu pipa regenerasi untuk menuntun serat saraf yang mengalami regenerasi ke tujuannya yang benar. Sisa bagian akson yang berhubungan dengan badan sel mulai tumbuh dan bergerak ke dapan di dalam kolom sel-sel Schwann melalui gerakan amuboid. Diperkirakan ujung akson yang sedang tumbuh “membaui” jalannya menuju kea rah yang sesuai dituntun oleh za-zat kimia yang dikeluarkan oleh sel Schwann ke dalam pipa regenerasi. Regenerasi serat yang berhasil menyebabkan pulihnya sensasi dan gerakan dalam suatu periode waktu tertentu setelah trauma saraf perifer, walaupun regenerasi itu tidak selalu berhasil. Aktivitas sel Schwann dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini.

3.jpg


Поделитесь с Вашими друзьями:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©www.azkurs.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə